“Maung Bandung Mengaum!!”. Itulah headline sampul sebuah tabloid
sepak bola nasional dengan latar belakang duet striker Kekey Zakaria
dan Sutiono Lamso. Dua striker lokal milik Persib Bandung di era tahun
1995 saat berhasil menerkam Assyabaab SGS Surabaya dipertandingan
terakhir babak 8 besar Liga Dunhill (Liga Indonesia 1) 26 Juli 1995
dengan skor 3-0.
Saat itu, Persib tampil meyakinkan di babak 8 besar yang dihuni
Petrokimia Putera, Assyaabab SGS dan Medan Jaya. Pangeran Biru berhasil
melenggang mulus ke babak semifinal dengan raihan dua kali menang,
sekali imbang dan tanpa sekalipun menderita kekalahan.
Apa yang terjadi saat ini seperti membuka kembali ingatan indah masa
lalu. Persib yang saat ini tengah berjuang untuk mewujudkan mimpi
bobotoh yang terpendam, terlelap dalam tidurnya Maung Bandung selama 19
tahun terakhir, akan terwujud. Persib pernah juara dan akan juara
lagi!!!
Persib yang saat ini tampil elegan di babak 8 besar Indonesia Super
League 2014, menunjukan konsistensi permainan dibanding musim-musim
sebelumnya. Julukan “si jago Kandang” yang erat di tahun-tahun
sebelumnya, tahun ini sangatlah tidak pantas disematkan kepada Persib
Bandung.
Bagaimana tidak, sebelumnya di babak penyisihan grup wilayah barat.
Persib hanya menderita tiga kali kekalahan dan dua diantaranya di Si
Jalak Harupat, home base Maung Bandung. Bahkan pemuncak klasemen wilayah
barat, Arema Cronus tidak mampu mengalahkan Persib di fase penyisihan
wiayah. Arema Cronus dipukul 3-2 di Bandung dan ditahan 2-2 di
kandanganya sendiri, Stadion Kanjuruhan.
Jika kita perhatikan hubungan antara 1995 (saat Persib juara) dan 2014 (sekarang, saat Persib akan juara) sangatlah mesra.
Pertama, Persib melanggeng ke babak 8 besar sebagai runner up di
bawah Pelita Jaya yang berhasil merajai wilayah barat. Seperti kita
ketahui, di tahun ini Persib bertengger di posisi yang sama di bawah
Arema Indonesia yang berganti nama menjadi Arema Cronus setelah merger
dengan Pelita Jaya milik Nirwan Bakrie.
Kedua, selama penyisihan wilayah 1994/1995 dan 2014 Persib hanya
menderita tiga kekalahan. Di kompetisi Liga Indonesia Pertama tersebut,
Persib kalah oleh Pelita Jaya di partai pembuka dengan skor 1-0, 27
November 1994, kalah tipis 1-0 dari Semen Padang di Stadion H. Agus
Salim, 18 Desember 2014 dan dibekap Persiraja Banda Aceh 1-0, 30 April
1995. Pada tahun 2014? sudah saya tuliskan di atas.
Ketiga, Persija tidak lolos 8 besar. Sepertinya ini tidak perlu saya
jelaskan, apalah Persija di tahun 1995? hanya klub ibu kota yang menjadi
pesakitan dengan menderita 16 kali kekalahan dan sekali WO, serta hanya
mampu menang lima kali saja. Jumlah kemenangan yang sama dengan PS
Bengkulu dan Warna Agung yang terdegradasi musim itu.
Keempat, Striker lokal menjadi andalan. Di tahun 1995 Persib masih
bermaterikan 100 persen pemain lokal, otomatis striker yang diandalkan
lokal juga. Sekarang, tanpa mengesampingkan peran Djibril Coulybaly yang
kehilangan jati diri semenjak bergabung dengan Pangeran Biru, Persib
bertumpu pada striker lokal made in Bandung, sebut saja Tantan,
Ferdinand Sinaga, Rudiana dan Sigit Hermawan. Meskipun nama terakhir
yang disebutkan belum semenitpun menginjakan kakinya di rumput ISL musim
ini.
Kelima, Djajang Nurjaman. Nakhoda Persib selama dua musim terakhir
ini seperti ingin membuktikan ucapannya saat pertama kali dipersilahkan
duduk di kursi panas pelatih Persib dua tahun yang lalu. Djanur saat itu
mengatakan, Persib akan juara jika dilatih oleh pelatih lokal. Lalu apa
persamaan Persib 2014 dan Persib 1995 dengan media Djajang Nurjaman?.
Pada kompetisi 1994/1995 saat itu, Djajang juga berada dibalik
kesuksesan Maung Bandung meraih tropi Juara, bersama Emen Suwarman,
Djajang yang menjadi asisten pelatih Indra Thohir sukses bahu membahu
menjadikan Persib juara Liga Indonesia pertama.
Keenam, Tidak terkalahkan sepanjang babak 8 besar. Tanpa bermaksud
mendahului takdir Tuhan, saya meyakini disisa dua kali pertandingan
babak 8 besar ISL 2014, Persib mampu memenangkan pertandingan sehingga
kesuksesan tidak terkalahkan di babak 8 besar Liga Indonesia 1994/1995
akan terulang.
Melalui tulisan ini, penulis tidak mengajak untuk berkhayal dan
menyamakan kenangan indah 1995 dan mimpi juara di tahun ini. Tapi
penulis mengajak untuk tetap optimis bahwa sudah saatnya gelar juara
liga dibawa pulang ke Kota Bandung, sesuai tagline Ridwan Kamil Walikota
Bandung tercinta. BANDUNG JUARA! (Aris Amrullah)
*Penulis adalah seorang pria yang sengaja botak sekaligus pemilik akun twitter @ariswebb

0 comments:
Post a Comment