Oleh : Ekomaung
Baru di tulisan keempat ini saya benar-benar memulai berbagi kisah
tour dengan Mang Ayi. Padahal saya sudah berjanji sejak tulisan pertama
dan ini karena memang sulit untuk memilih tour mana yang layak saya
ceritakan. Selain karena cukup banyak, ada juga beberapa kisah dalam
tour (utamanya tentang hereuy-hereuy ekstrim Mang Ayi) yang rasanya
sementara tetap harus off the record karena secara etika membutuhkan
konfirmasi dan persetujuan keluarga almarhum jika hendak saya tulis.
Secara umum, tour bersama Mang Ayi dilakukan dalam 3 jenis. Pertama
yaitu tour yang terkoordinir dan mengarahkan massa. Tour ini dilakukan
biasanya melalui proses pendaftaran dan melibatkan banyak bobotoh,
seperti yang umum terjadi dalam tour ke Surabaya, Tangerang, dan
kota-kota lain yang terjangkau oleh bus/kereta. Tour kedua adalah
tour-tour yang dilakukan dengan tidak terlalu banyak diikuti bobotoh.
Namun, bobotoh tetap saja banyak karena saat bertemu di kota tujuan
ternyata banyak juga bobotoh yang hadir, seperti tour ke Makassar,
Palembang, Balikpapan, Medan, Padang dsb. Dan tour ketiga adalah
tour-tour ekslusif yang membutuhkan akses-akses khusus karena berbagai
alasan seperti keamanan, status pertandingan usiran dsb. Tour jenis ini
biasanya sangat sedikit diikuti bobotoh yang hadir atau bahkan tak ada
karena hanya PERS yang dapat hadir karena alasan meliput. Tour jenis ini
misalnya tour ke Bireun, Deli Serdang dsb.
Berikut saya coba berbagi kisah beberapa tour yang menurut saya
memiliki momen-momen penting dimana saya dapat memahami Mang Ayi secara
komprehensif.
Tour Malang saat pertandingan vs Persija
Ada satu pertandingan saat Persija vs Persib justru dilakukan di
Malang. Jika tak salah, alasan klasik izin kemanan yang menjadi
penyebab. Sontak hal ini disambut antusias oleh bobotoh kerena iraha
deui bisa lalajo secara vulgar dan terang-terangan serta berhadapan
langsung dengan Jakmania di stadion. Saya ingat betul, Mang Ayi marah
kepada kawan saya yang bernama Jamril karena dia absen dalam tour ini.
Asal tahu saja, Jamril ini termasuk kategori bobotoh garis keras yang
cukup vulgar, sarkas, dan wanian. Bahkan konon, dialah penemu ucapan “
(nama pemain)… ibu kamu pelacur” yang biasanya sukses membuat emosi
pemain lawan tersulut saat mendengarnya, apalagi saat dilakukan disaat
sesi ujicoba lapang.
Mang Ayi ngambek karena tahu bahwa Jamril yang absen dalam tour ini
memiliki prinsip Indonesia tanpa Jakmania dan dalam banyak hal
bersepakat dengan Mang Ayi tentang pelestarian rivalitas. Oleh karena
itu, absennya Jamril sontak membuat Mang Ayi meradang. “Mana si Jamril?
ngomong weh gublag-goblog, the Jak Anjing…. Tapi pas aya kasempatan
pahareup-hareup teu milu …” – piss yah buat jamril, no offense…hehehe.
Momentum yang akan saya ceritakan dalam paragraf ini benar-benar
menegaskan sosok Mang Ayi memang layak sebagai ayah sekaligus panglima
bagi ribuan supporter. Cerita bermula ketika ribuan bobotoh tengah
transit di Surabaya sebelum bertolak ke malang untuk menyaksikan laga
sarat gengsi itu, mereka tidur-tiduran di taman sekitar sekretariat
yayasan supporter Surabaya. Mang Ayi ikut bersama rombongan ini.
Sementara di malang, sudah tiba terlebih dahulu para petinggi Viking
sehari sebelumnya untuk berkoordinasi.
Ternyata, saat wawancara dengan RRI, ada kabar mengejutkan. Polisi
berang karena tak satupun perwakilan bobotoh yang berani menandatangani
surat perjanjian untuk bertanggung jawab jika terjadi apa-apa di Malang.
Sementara ketua Jakmania sudah tandatangan. Tentunya Mang Ayi heran dan
kesal kenapa tak ada perwakilan bobotoh yang berani tandatangan.
Bahkan, pimpinan polisi sempat mengatakan bahwa anak-anak Bandung
pengecut. Mang Ayi yang masih bergabung di Surabaya tentu saja marah dan
kesal karena seharusnya urusan itu sudah dapat ditangani oleh
perwakilan bobotoh yang sudah ada di Malang.
Sementara ketika waktu
semakin siang kembali beredar “sms siluman” yang mengatakan bahwa pihak
kepolisian melarang bobotoh berangkat ke Malang, padahal setelah
dikonfirmasi ternyata berita itu tak benar. Polisi hanya meminta ada
pimpinan bobotoh yang bersedia tandatangan surat perjanjian bertanggung
jawab seperti ketua Jakmania yang saat itu sudah ada di malang (Jakmania
memang langsung menuju ke malang dari Jakarta sementara bobotoh transit
dulu di Surabaya). SMS hoax ini beredar dengan cepat dan tentu saja
membuat ribuan bobotoh yang berada di Surabaya kecewa karena mereka
berpikir akan batal ke Malang.
Entah siapa yang menyebar SMS hoax itu, tapi Mang Ayi geram karena
merasa justru ada pihak dari bobotoh sendiri yang menghalang-halangi
keberangkatan rombongan supporter Bandung dari Surabaya ke Malang. Lewat
tengah hari, Mang Ayi bangkit dari tidurnya, dia berteriak…”Rek
nanaonan atuh sia teh beut sarare didieu? Hudang goblog.., hayu urang ka
Malang…., dukung PERSIB…., ceuk saha bobotoh teu meunang lalajo? ….
Aing nu tanggung jawab”….. Mengingat hal itu, sungguh membuat saya
merinding. Terbayang kembali bobotoh yang sudah pasrah dan kecewa
tiba-tiba “terbakar” kembali. Mereka langsung bersorak dan mengikuti
langkah Mang Ayi. Yel-yel pun bersahutan, parade panjang dimulai dari
kota pahlawan. Para jiwa pemberani itu bersiap menuju Malang (sungguh
saya sedih dan teringat sosok Mang Ayi ketika menulis ini).
Di kereta, Mang Ayi terus membakar semangat para bobotoh, dia
memukul-memukul atap kereta. Semua mengelu-elukan PERSIB. Mang Ayi
benar-benar heroik saat itu dan sungguh, semua benar-benar menemukan
sosok panglima saat itu, panglima yang mau ambil semua resiko untuk
PERSIB dan para pendukungnya. Karakter Mang Ayi saat itu sebenarnya
jelas terlihat kembali beberapa waktu lalu ketika Mang Ayi mengatakan
siap mencium kaki kapolda asalkan izin vs Persija dikeluarkan.
Dalam kesempatan lain, Mang Ayi mengatakan pada saya “da teu kabayang
atuh Ko (panggilan kepada penulis) mun teu jadi indit ka Malang. Watir
barudak, asalna sumanget jadi leuleus kitu…. Padahal barudak nu indit ka
Surabaya geus siap ka Malang nganteur nyawa keur PERSIB”….. Ucapan
“nganteur nyawa keur PERSIB” sungguh membuat saya merinding saat itu.
Saya merasa kecil dibanding jiwa-jiwa pemberani itu. Karena saya kan
memang tugas liputan sebagai jurnalis, sementara mereka mengorbankan
waktu, pekerjaan, materi dan banyak hal untuk pertandingan besar ini.
Ternyata SMS hoax belum berhenti, saat mengetahui ribuan bobotoh
tetap berangkat ke malang, tiba-tiba beredar SMS bahwa bobotoh masuk
malang dilarang menggunakan atribut…. Hahaha tak ada yang peduli, mereka
justru semakin bangga dengan baju biru yang mereka kenakan, mereka
malah mencibir……. Sementara kereta semakin mendekat ke malang, semua
menanti dan bersiap mengikuti langkah sang panglima…mereka siap untuk
semua resiko…..untuk PERSIB dan kehormatannya.
bersambung...
*Penulis adalah ex.ass.produser almarhum ayi beutik di program
PERSIBaing KOMPAStv jabar dan rekan penyiar almarhum di 96,4 bobotoh FM,
berakun twitter @ekomaung


0 comments:
Post a Comment