Oleh: Ekomaung
Tulisan ini adalah bagian kedua seri
tulisan tentang almarhum Mang Ayi Beutik. Sementara ini penulis
berencana membuat 7 seri tulisan tentang panglima Viking yang fenomenal
ini. Penulis mencoba mengumpulkan kepingan memori berdasarkan perkenalan
selama hampir 15 tahun, tur-tur yang pernah dijalani bersama,
keseharian dan obrolan diluar sepakbola dan PERSIB bersama almarhum,
cerita dari kawan-kawan terdekat almarhum dan apa yang tertangkap selama
bekerja bersama almarhum untuk STV (KOMPAS tv JABAR sekarang) Bandung
dan 96,4 BOBOTOH FM.

Semua ini tiada lain agar seluruh kenangan
tentang almarhum terdokumentasi, agar generasi mendatang mengetahui
bahwa pernah ada seorang yang mengabdikan seluruh ambisi duniawinya
untuk klub sepakbola pujaannya. Saat seorang supporter mencapai titik
bahwa nafas seorang supporter untuk klub pujaannya lebih dari sekedar
2×45 menit, namun di setiap detik yang ia lalui, tak semata menang,
seri, dan kalah, namun sebuah penerimaan tanpa syarat.
Homo ludens
Homo ludens, manusia adalah makhluk bermain, dan ketika kita ingin melihat perwujudan itu secara utuh, mungkin pada sosok Ayi Beutik lah kita dapat menemukannya. Bagi mereka yang mengenal betul sosok Mang Ayi, tentunya paham bahwa beliau adalah jelema heureuy, hampir tak pernah serius, tiada kesempatan tanpa candaan. Dia selalu menemukan cara untuk tertawa, walau terkadang caranya ekstrim, dan parah separah-parahnya (seperti apa yang pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya).
Homo ludens, manusia adalah makhluk bermain, dan ketika kita ingin melihat perwujudan itu secara utuh, mungkin pada sosok Ayi Beutik lah kita dapat menemukannya. Bagi mereka yang mengenal betul sosok Mang Ayi, tentunya paham bahwa beliau adalah jelema heureuy, hampir tak pernah serius, tiada kesempatan tanpa candaan. Dia selalu menemukan cara untuk tertawa, walau terkadang caranya ekstrim, dan parah separah-parahnya (seperti apa yang pernah saya singgung pada tulisan sebelumnya).
Jujur sebelum saya mengenal Mang Ayi, saya
adalah pribadi yang cenderung serius dalam menghadapi hidup. Dari dia
lah saya belajar lebih banyak tertawa, dan hal tersebut terbawa hingga
kini. Bukan saya saja yang belajar lebih banyak tertawa dari Mang Ayi,
beberapa teman yang konon katanya anggota gangster motor dan komunitas
“menyeramkan” lainnya ternyata terimbas hidup heureuy ala Mang Ayi.
Dalam suatu kesempatan, bobotoh tengah
dalam sorotan dan statement-statement media diarahkan kepada
komentar-komentar serius dari tokoh-tokoh, namun Mang Ayi tetap tertawa
dan berkata “da urang-urang mah barudak seuri moal ngartieun atuh
wartawan-wartawan eta mah” (kita ini anak-anak yang senang tertawa,
wartawan-wartawan itu takkan mengerti. Budaya heureuy ini (walau dalam
konteks Mang Ayi memang sangat ekstrim dan diatas rata-rata kebanyakan
orang) memang mencerminkan pula watak urang Priangan yang senang dengan
canda, bodor, heureuy, dalam beberapa hal, bentuk bablasnya mungkin
tidak pernah serius.
Heureuy ala Mang Ayi
Heureuy ala Mang Ayi dalam banyak hal bisa jadi tak disadari oleh orang-orang yang tak mengenalnya dengan baik, ucapan-ucapan beliau seringkali diterima mentah-mentah dan disamakan dengan persepsi standar kebanyakan orang. Sebenarnya bentuk heureuy dan ketidakseriusan Mang Ayi dapat ditelusuri dari pemberitaan-pemberitaan belakangan ini, Mang Ayi sangat kuat heureuynya dalam konteks lisan, obrolan, dan percakapan.
Heureuy ala Mang Ayi dalam banyak hal bisa jadi tak disadari oleh orang-orang yang tak mengenalnya dengan baik, ucapan-ucapan beliau seringkali diterima mentah-mentah dan disamakan dengan persepsi standar kebanyakan orang. Sebenarnya bentuk heureuy dan ketidakseriusan Mang Ayi dapat ditelusuri dari pemberitaan-pemberitaan belakangan ini, Mang Ayi sangat kuat heureuynya dalam konteks lisan, obrolan, dan percakapan.
Beberapa berita yang beredar belakangan
tentang Mang Ayi sebenarnya tak valid dan hanya candaan. Namun dianggap
valid, karena memang bersumber langsung dari ucapan Mang Ayi. Jika
ditelusuri, saya yakin sumber utamanya adalah hasil wawancara seseorang
terkait tugas akhirnya yang kemudian diposting via blog beberapa tahun
lalu, dan dikutip oleh banyak orang terutama ketika Mang Ayi berpulang
dan banyak orang ingin mengetahui sosok panglima Viking ini, maka
jadilah itu diterima sebagai suatu kenyataan dan fakta.
Namun saya pastikan jika berbicara tentang
PERSIB dan filosofi pePERSIBan, Mang Ayi senantiasa serius, tentang nama
Jayalah PERSIBku yang dia berikan pada anaknya, tentang mengapa dia
merasa PERSIB telah memberi segalanya, tentang cerita-cerita selama
lalajo PERSIB dsb. Oya, tentunya tulisan ini tak akan mengoreksi dan
meluruskan berita-berita tentang Mang Ayi yang beredar belakangan ini,
karena berita-berita itu memang bukan fitnah, dan keluar dari Mang Ayi
sendiri, dan memang diketahui serta dikehendaki oleh Mang Ayi pula.
Biarlah semua menjadi bukti kelihaian Mang Ayi dalam heureuy. Sebagai
gantinya, saya akan berbagi cerita heureuy ala Mang Ayi berikut ini:
1. Kepindahan Bekamenga
Beberapa musim lalu ada seorang striker yang sangat produktif, main sedikit tapi rasio gol sangat tinggi, dialah Cristian Bekamenga asal Kamerun. Tiba-tiba, striker keling ini “kabur” dan tak lagi nongol untuk PERSIB.
Beberapa musim lalu ada seorang striker yang sangat produktif, main sedikit tapi rasio gol sangat tinggi, dialah Cristian Bekamenga asal Kamerun. Tiba-tiba, striker keling ini “kabur” dan tak lagi nongol untuk PERSIB.
Ada sebuah televisi nasional yang sedang
liputan di Bandung kemudian berkesempatan ngobrol dengan Mang Ayi.
Kebetulan dalam sesi tanpa kamera on dia bertanya tentang Bekamenga,
Mang Ayi dengan enteng menjawab “Bekamenga sudah tak di PERSIB, dia
sudah teken kontrak dengan Newcastle United”. (Mungkin) karena reputasi
bekamenga yang juga pernah bermain untuk timnas junior kamerun dan info
A1 dari seorang berlabel panglima viking yang tentulah sangat paham dan
mengikuti perkembangan tim, maka si pewawancara tampaknya tak pikir
panjang dan menganggap dia telah mendapat info ekslusif dari sumber
terpercaya. Alhasil sore harinya saya mulai melihat running text di tv
tersebut tentang akan bermainnya bekamenga di English Premier League
(liga primer Inggris), dan lucunya karena yang menampilkan running text
itu adalah televisi nasional terkemuka maka beritu itu dikutip pula oleh
stasun tv pesaingnya, maka sempat ada hoax terkait bekamenga yang
seliweran di running text TV-TV nasional terkemuka.
Saat saya berjumpa Mang Ayi ternyata dia
sudah tahu tentang berita itu karena banyak orang-orang yang konfirmasi
dan menanyakan kebenaran berita itu pada Mang Ayi tanpa mereka tahu
justru dialah yang menyebarkan berita tersebut. Sementara konfirmasi
langsung ke manajemen pun tampaknya tak mudah, karena saat itu manajemen
pun merasa dikadali sang agen dan belum ada komunikasi yang jelas.
Yang ada disana saat itu hanya
tertawa-tawa, dan asal tahu saja mengapa Mang Ayi secara spontan
menyebut Newcastle united, karena itulah klub liga Inggris favoritnya,
dan berita itu jelas-jelas ngaco karena pada kenyataannya setelah
tinggalkan PERSIB, Bekemenga hanya bermain di kasta rendah Liga
Perancis.
2. Penandatanganan kontrak Zah Rahan
Cerita lucu ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum dikalangan wartawan-wartawan yang pernah meliput PERSIB sejak sebelum era PT.PBB. Ada satu musim dimana saat itu PERSIB sedang gencar-gencarnya diberitakan tengah mendekati beberapa pemain tengah terbaik tanah air, maklum saja isu yang ramai saat itu adalah tak adanya playmaker handal yang dimiliki PERSIB. Salah satu pemain yang menjadi sorotan saat itu adalah Zah Rahan Kreanger, tentunya info terkait pemain ini akan sangat ekslusif dan menjual jika dikaitkan dengan PERSIB.
Cerita lucu ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum dikalangan wartawan-wartawan yang pernah meliput PERSIB sejak sebelum era PT.PBB. Ada satu musim dimana saat itu PERSIB sedang gencar-gencarnya diberitakan tengah mendekati beberapa pemain tengah terbaik tanah air, maklum saja isu yang ramai saat itu adalah tak adanya playmaker handal yang dimiliki PERSIB. Salah satu pemain yang menjadi sorotan saat itu adalah Zah Rahan Kreanger, tentunya info terkait pemain ini akan sangat ekslusif dan menjual jika dikaitkan dengan PERSIB.
Ada salah seorang wartawan senior (saat ini
sudah menjadi redaktur tampaknya) dari salah surat kabar terkemuka yang
diberitahu Mang Ayi bahwa akan ada penandatanganan kontrak oleh Zah
Rahan yang akan dilakukan di suatu tempat rahasia di Bandung. Dimasa
APBD dulu, memang sudah jadi kebiasaan obrolan terkait kontrak dilakukan
diam-diam dan mendadak. Kemudian, wartawan ini diajak oleh Mang Ayi da
dibawa ke suatu kawasan di Gardujati, yang identik dengan suatu
lokalisasi terkenal. Wartawan tadi disuruh stand by di situ saja karena
penandatanganan akan dilakukan dihotel di jalan antara Jendral Sudirman
dan Pasirkaliki tesebut.
Pada saat bersamaan, ternyata rekan-rekan
sang wartawan tengah membuat liputan di daerah tersebut. Entah bagaimana
caranya, tiba-tiba mereka berpapasan (dan Mang Ayi tentunya sudah tak
ada). Terbayang betapa canggung dan risihnya sang wartawan ketika
berpapasan dengan rekan-rekannya yang memang wajar berada disitu karena
terkait liputan (kalo tidak salah, liputan terkait penutupan lokalisasi
saritem). Sementara, dia adalah wartawan peliput PERSIB dan tak
berkepentingan di tempat itu. Terlebih, alasan yang dia berikan adalah
“rek ngaliput Zah Rahan”…halah alasan macam apa itu.
Esoknya di lapang tempat PERSIB latihan,
wartawan itu dekati Mang Ayi yang juga nonton latihan. Sontak dia
berkata: “Wah tik kacida euy ngagawean teh, urang disangkana rek naon
diditu.”Dengan mimik serius, Mang Ayi menjawab: “sori, da bener asalna
mah aya rumor eta, ngarana ge rek mantuan babaturan keur berita. Lain
salah urang mun teu jadi.”
Dan tentunya kami semua yang ada disitu pun tertawa setelah mengetahui ceritanya.
Sebenarnya, karakter heureuy ala Mang Ayi
seperti apa yang saya ceritakan di atas, dapat terlihat dari kejadian
yang baru-baru ini terjadi, yaitu insiden “Aep Dadeng”. Tak perlu lah
saya ceritakan bagaimana kronologisnya karena tentunya masih segar
diingatan kita. Bagaimana seriusnya orang-orang yang menjadi narsum dan
juga keseriusan kru (presenter,produser dsb) salah satu TV nasional
terkemuka itu, bagi Mang Ayi tak lebih dari bahan candaan dan heureuy
belaka. Isu serius yang diusung saat itu secara frontal ditanggapi
dengan ketidakseriusan “Aep Dadeng”.
Masih banyak heureuy ala Mang Ayi yang saya
ingat. Tak sekedar lisan, namun ada juga yang lebih ekstrim yang
tentunya tak mungkin saya urai semuanya disini. Keterbatasan kata dalam
suatu tulisan sangat berpotensi munculkan kesalahpahaman, terlebih untuk
memahami seorang pribadi yang unik seperti Mang Ayi. Karena senyum dan
tawa pula, Mang Ayi membangun ikatan sosial diantara para supporter muda
yang mendampinginya.
Bersambung…
Dalam tulisan berikutnya penulis akan mencoba menceritakan kembali beberapa pengalaman tour yang pernah dilalui bersama Mang Ayi
*Penulis adalah ex.ass.produser almarhum
ayi beutik di program PERSIBaing KOMPAStv jabar dan rekan penyiar
almarhum di 96,4 bobotoh FM, berakun twitter @ekomaung

0 comments:
Post a Comment