Mengenang Ayi Beutik - Bagian Kahiji

Posted by

Oleh: Ekomaung

Saya sangat menyadari bahwa banyak kawan-kawan yang secara historis lebih memiliki kedekatan emosional dengan almarhum Ayi Beutik. Tulisan ini sekedar berbagi kepingan memori yang saya rekam sepanjang 15 tahun perkenalan dengan mang ayi, tentang seorang sosok yang senantiasa bertindak spontan, parah (separah-parahnya), diluar pakem namun terkadang filosofis. Tulisan ini tentu tak akan mampu memotret seluruh jejak langkah sang panglima, hanya beberapa langkah kecil dimana saya berkesempatan menyertai.
Cerita tentang kedua anak mang ayi yang diberi nama PERSIB tentulah sudah banyak diceritakan dalam sepekan terakhir ini, mungkin itu puncak “kegilaan” mang ayi, rasanya sesuka-sukanya orang kepada klub sepakbola tentunya akan berpikir ribuan kali saat memberi nama anaknya dengan sebuah nama klub sepakbola. Itu hanya sebagian dari “kegilaan” mang ayi yang lain, misalnya mungkin banyak yang tak tahu bahwa mang ayi pernah mencoba mendaftar menjadi walikota Bandung pada tahun 2003 (saat itu belum sistem pemilihan langsung), walau dengan konteks heureuy, bagaimana tidak saat dilakukan wawancara visi misinya hanya 1 yaitu :membawa PERSIB juara, ditanya visi misi lain, mang ayi selalu menjawab: membawa PERSIB juara…

Suporter yang “istiqomah”
Pertama kali mendengar nama ayi beutik dipenghujung 90-an, mang ayi sedang berada di pekan baru dia masih bekerja sebagai surveyor yang seringkali harus bekerja di pedalaman dan hutan-hutan daerah (bahkan mang ayi bercerita pernah naik rakit untuk mencari rumah penduduk yang memiliki TV, hanya untuk nonton PERSIB vs ac.milan). Ternyata hidup seperti itu tak membuatnya menikmati hari, karena jauh dari PERSIB, mau nonton pertandingan menjadi hal yang sulit, bukan itu yang mang ayi inginkan dalam hidup, dia selalu kepikiran PERSIB. Akhirnya mang ayi memutuskan melepaskan pekerjaan dan kemapanan nafkah demi menetap di Bandung dan keleluasaan untuk menonton PERSIB.
Obrolan tentang pilihan mang ayi ini bermula ketika mang ayi bertanya tentang pekerjaan ayah saya, saya menjawab bahwa ayah saya bekerja di pusat penelitian geoteknologi LIPI, ayah saya orang teknik geologi, dan ternyata obrolan kami nyambung karena mang ayi yang memiliki basic geodesi sehingga pekerjaan mereka mirip-mirip, seperti survey, mengukur tanah, observasi, harus berada di hutan berminggu-minggu dsb.

Mang Ayi tak khawatir tentang urusan perut ketika memutuskan meninggalkan pekerjaan tersebut, mang ayi pernah mengatakan bahwa jika kita total untuk sesuatu yang kita yakini (seperti musik misalnya) maka yakinlah akan ada balasan dari-Nya, karena rezeki sudah ada yang mengatur, dan itulah pula yang terjadi kemudian. Seiiring waktu mang ayi mendapatkan kemapanan dari “pekerjaan” sebagai seorang supporter, dia dibayar untuk menjadi host tv, penyiar radio, diendorse ekslusif oleh clothing, berhak mendapat bagian dari aktivitas niaga viking (toko dsb) yang tentunya bisa jadi lebih besar dari gaji pekerja-pekerja formal pada umumnya. Jangan lupakan pula pengaruh sosial yang berimplikasi terhadap kedekatan politis dengan birokrasi dan para pejabat dimana tentunya melekat berbagai keuntungan, sungguh tak dapat ditukar dengan pekerjaan apapun.

Saya masih ingat juga mang ayi bercerita ketika ditanya oleh calon mertuanya dulu tentang pekerjaannya (sesuatu yang sangat wajar ditanyakan kepada orang yang akan menikahi anak perempuannya), mang ayi menjawab bahwa pekerjaannya adalah supporter sepakbola, ketika ditanya kembali oleh calon mertua apa yang dimaksud adalah pengurus sepakbola?, mang ayi kembali menegaskan bahwa yang dimaksud memang adalah supporter sepakbola, bukan pengurus, pemain dsb. Waktu menjawab bahwa “pekerjaan” itu mampu menghidupi dan menyejahterakan istri beserta kedua anaknya. Mang ayi seringkali mengatakan bahwa PERSIB telah memberi dia segalanya. “Keyakinan” dan “keimanan” seorang mang ayi terhadap klub sepakbola pujaannya telah membuktikan sesuatu yang layak direnungkan, dalam konteks ini mungkin ayi beutik adalah supporter yang “istiqomah”. 

Sosok yang diterima secara sosiologis
Banyak yang mengatakan bahwa sosok mang ayi diterima oleh para bobotoh (utamanya anak-anak viking) karena dia adalah panglima viking. Jujur saya tidak setuju, karena menurut saya mang ayi diterima karena dia adalah mang ayi beutik. Mang ayi diterima bukan semata secara struktural tapi juga secara sosiologis. Dalam banyak kasus orang diterima, dihormati, dan dihargai secara struktural, karena dia sebagai apa, menjabat apa, maka dalam banyak kasus pula orang akan menjadi kehilangan respek dan kehormatan ketika dia tidak lagi menjabat sesuatu itu, orang-orang tak akan menerimanya ketika dia tidak menjadi apa-apa, maka sebisa mungkin kebanyakan orang akan mempertahankan kekuasaannya (kalo perlu sampai kiamat tiba), akan mempertahankan jabatannya , ingin terus menjadi sebagai apa-apa, agar dia tidak kehilangan pengaruh dan tetap dihargai.

Namun mang ayi tidak seperti itu, misalkan jabatan panglima itu dibatasi dan mang ayi tak lagi menjabat sebagai panglima, maka tetap saja sosok mang ayi akan tetap diterima oleh banyak bobotoh, dia akan tetap dituakan dan dianggap pangPERSIBna, semata karena rekam jejak yang mang ayi torehkan dan totalitas yang dia berikan untuk PERSIB, saya kira tak ada bobotoh yang berani menantang mang ayi untuk beradu loyalitas dan totalitas untuk PERSIB. Totalitas itulah yang mendapat pengakuan sehingga timbulkan respek dan penerimaan oleh bobotoh. Jadi bukan karena mang ayi panglima maka semua respek, namun karena apa yang mang ayi lakukan telah timbulkan respek dan pengakuan sehingga layak dianggap sebagai panglima, terlebih jika ditelusuri lebih jauh, dalam konteks ini sebenarnya panglima bukanlah jabatan struktural yang formal, namun sebuah bentuk pengakuan yang melekat pada individu.

Bersambung 
Dalam tulisan berikutnya penulis akan mencoba menceritakan kembali beberapa pengalaman tour yang pernah dilalui bersama mang ayi 

*Penulis adalah ex.ass.produser almarhum ayi beutik di program PERSIBaing KOMPAStv jabar dan rekan penyiar almarhum di 96,4 bobotoh FM


Berita Persib Updated at: 10:23 AM

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts

Blog Archive