Oleh: Eko Maung
Seri ketiga ini saya mencoba berbagi beberapa pandangan Mang Ayi yang
saya dapat langsung dari almarhum. Seperti saya bahas di tulisan
sebelumnya, Mang Ayi ini tukang hereuy, selalu sulit serius, tapi itu
berlaku saat tengah berkumpul. Namun jika sedang berinteraksi dengan
satu orang saja, maka yang terjadi adalah curhat dan obrolan-obrolan
serius. Jadi Mang Ayi mah mun lobaan hereuy, mun duaan curhat.
Sosok Yang Demokratis
Mang Ayi yang saya kenal adalah sosok yang demokratis. Beberapa ucapan dan laku mengindikasikan itu. Misalnya bahwa Mang Ayi adalah orang yang menerima perbedaan walau dia belum tentu sependapat. Saya ambil contoh tentang suporter cassual, Mang Ayi dalam banyak hal tidak satu selera tapi bisa menerima keberadaan mereka, dia mengatakan “rek kukumaha oge baelah, da eta mah masalah gaya hungkul…nu penting mah tujuanna sarua PERSIB.” Walau dalam beberapa kesempatan (bahkan saat siaran TV) dia jelas-jelas menunjukkan tidak satu selera dengan casual, misalnya ucapan “make jaket mantel, nutupan beungeut, make sarung tangan…sakalian weh mawa karung jeung mulungan botol aqua, pan geus jiga tukang botol,” tapi ketidaksatuseleraannya itu bukan berarti bersebrangan, karena intinya adalah sama-sama mendukung PERSIB.
Mang Ayi yang saya kenal adalah sosok yang demokratis. Beberapa ucapan dan laku mengindikasikan itu. Misalnya bahwa Mang Ayi adalah orang yang menerima perbedaan walau dia belum tentu sependapat. Saya ambil contoh tentang suporter cassual, Mang Ayi dalam banyak hal tidak satu selera tapi bisa menerima keberadaan mereka, dia mengatakan “rek kukumaha oge baelah, da eta mah masalah gaya hungkul…nu penting mah tujuanna sarua PERSIB.” Walau dalam beberapa kesempatan (bahkan saat siaran TV) dia jelas-jelas menunjukkan tidak satu selera dengan casual, misalnya ucapan “make jaket mantel, nutupan beungeut, make sarung tangan…sakalian weh mawa karung jeung mulungan botol aqua, pan geus jiga tukang botol,” tapi ketidaksatuseleraannya itu bukan berarti bersebrangan, karena intinya adalah sama-sama mendukung PERSIB.
Ucapan dan sindiran-sindiran itu tentulah bisa kita anggap “heureuy
ala Mang Ayi”. Justru di situlah salah satu esensi terpenting pemikiran
yang demokratis dalam sepakbola, yaitu memberi tempat dan menerima hal
yang nyata-nyata dia kurang sreg demi satu alasan yang prinsipil yaitu
PERSIB. Jadi tak berlaku terhadap mereka yang bukan pendukung PERSIB
yah.
Sikap menerima ini pun ditunjukkan pula dengan obrolan saat di kafe
PERSIB. Jadi Mang Ayi bukannya tidak tahu bahwa ada fp-fp bobotoh di
facebook yang tak menyukai dirinya, sering membicarakan Mang Ayi,
menjelek-jelekan dsb. Namun Mang Ayi menerima saja bahwa memang tak
semua orang bisa menyukai dan menerima dirinya, Mang Ayi biasa saja, dia
menganggap toh orang-orang yang tak suka dia pun sama-sama bobotoh.
Jadi yah masalah yang wajar jika berbeda persepsi tentang damai dengan
jak, teror pemain, flare, dll, semua punya pendapat dan gaya
masing-masing walau terkadang Mang Ayi pun heran tak ada yang langsung
mengatakan dan mengecam di hadapannya, jelema-jelema eta di facebook
mengecam dsb, tapi tara ka stadion, sakalina papanggih ngajak salaman,
cengar-cengir biasa wae, padahal bisa jadi Mang Ayi pun tahu orang-orang
dan komunitas–komunitas itu. Inilah yang membuat saat publik “menekan”
Mang Ayi, tapi bisa-bisanya Mang Ayi bersikap biasa saja malah semakin
ngahajakeun, ya karena yang beda pendapat itu hanya berisik di belakang
saja.
Demokratis ala Mang Ayi pun ditunjukkan dari ucapannya tentang
regenerasi, Mang Ayi memahami bahwa segala sesuatu yang sehat perlu
memiliki kontrol dan penyegaran agar tidak disalahgunakan. Bahkan dia
berbicara tentang dirinya sendiri, bahwa jika diperlukan Mang Ayi siap
menerima siapapun yang merasa ingin menjadi panglima menggantikan
dirinya jika merasa siap total demi PERSIB, karena diapun menganggap
panglima adalah jabatan non-formal jadi biar barudak yang menilai.
Artinya apa? Ini menunjukkan bahwa Mang Ayi bukanlah sosok yang ingin
bertahan terus-terusan, selamanya, namun siap menerima perubahan jika
itu lebih baik. Mang Ayi bukan orang yang khawatir kehilangan hal-hal
semacam jabatan dsb karena dia menganggap itu hanyalah sebuah penerimaan
dan pengakuan (tentang hal ini saya paparkan jelas di tulisan bagian
pertama)
Salam Nazi ala Mang Ayi
Banyak foto di internet dan kaos-kaos yang menunjukkan Mang Ayi memberi salam ala NAZI, dan memang dia sadar melakukan itu, sama sekali tak canggung. Lalu bagaimana kemudian seorang yang “barebas dan membebaskan” serta demokratis tiba-tiba berpaham fasis pula? Saya akan coba jelaskan di sini.
Banyak foto di internet dan kaos-kaos yang menunjukkan Mang Ayi memberi salam ala NAZI, dan memang dia sadar melakukan itu, sama sekali tak canggung. Lalu bagaimana kemudian seorang yang “barebas dan membebaskan” serta demokratis tiba-tiba berpaham fasis pula? Saya akan coba jelaskan di sini.
Perlu dipahami juga bahwa penyikapan Mang Ayi terhadap NAZI tak
serumit hingga ideologi, akar filosofis dsb. Mang Ayi hanya menerima
irisan-irisan yang berkaitan dengan kesuporteran, dan itu lebih banyak
di ranah style & pop culture saja. Anda tahu insiden soldatenkaffe
di Paskal Hypersquare yang menghebohkan dunia internasional tahun lalu?
Saya tahu betul bahwa Mang Ayi adalah pelanggan di kafe berkonsep perang
dunia II yang didominasi dengan simbol-simbol NAZI itu. Lalu apakah
Mang Ayi dan orang-orang yang sering nongkrong di kafe itu adalah NAZI?
Tentu tidak. Mereka hanyalah segmen penggemar pop culture. Jika yang
lain suka bergaya zombie, anime dll, kebetulan mereka-mereka ini gemar
dengan fashion militer perang dunia II dan tentu saja yang populer dan
dianggap paling elegan tentunya militer NAZI. Asal tahu saja dahulu
sebelum era NAZI seragam militer tak diperhatikan style-nya, seragam
lusuh kedodoran, tanda kepangkatan yang tak jelas dsb. Militer NAZI lah
yang membuat semuanya berubah dan membuat militer lebih fashionable,
baju-baju perwira yang slimfit, ketat pas badan, tanda kepangkatan yang
elegan, ornamen perak-emas dll. Sehingga memang banyak penggemar
sejarah-military pop culture yang senang berpakaian ala NAZI (terbaru ya
kasusnya ahmad dhani).
Obrolan panjang lebar tentang NAZI-sepakbola terjadi pada bulan Juli
tahun lalu. Saat itu tulisan saya tentang penutupan kafe “NAZI”
soldatenkaffe dimuat di HU Tribun Jabar, sedangkan saya sedang dinas di
luar Kota Bandung sehingga tak mengetahui jika tulisan saya dimuat. Saya
tahu pemuatannya justru ketika Mang Ayi mengambil foto koran yang
dibacanya kemudian “men-tag” via facebook. Kemudian Mang Ayi ngajak
ngobrol-ngobrol tentang suporter-suporter sepakbola neo NAZI. Dalam
obrolan itu sebenarnya Mang Ayi tak berkeberatan dicap sebagai fasis
atau NAZI karena dia melihat toh fenomena itu ada di Eropa. Mang Ayi pun
lebih memilih berpaham ala suporter-suporter ultra kanan yang ultra
nasionalis, walau tentunya tak dapat diimplementasikan sepenuhnya di
Indonesia mengingat keberagaman suku bangsa, walau saya timpali bahwa
ini menarik jika ditarik ke fanatisme kedaerahan di era perserikatan,
ketika paham chauvinisme ultra nasionalis ala suporter Eropa menyempit
ke paham etnis (kalo saya bilang ultra-kesukuan bener gak yah? ha3),
karena pernah ada masanya bahwa PERSIB identik dengan etnis Sunda,
PSMS=Batak, PSM=Bugis dll. Namun Mang Ayi ternyata lebih menikmati saat
PERSIB mengglobal seperti saat ini, ketika ikatan emosionalnya menembus
sekat geografis dan kesukuan.
Karakter “kanan” Mang Ayi tak semata menempatkan suatu kebanggaan
hingga titik paling ekstrim (dalam hal ini PERSIB), namun tampak juga
dalam keseharian dan selera Mang Ayi. Selain menggemari fashion militer
dan neo-nazi (walau bisa jadi non ideologis). Mang Ayi pun memilih jeep
militer sebagai tunggangan kesayangannya, ini selaras dengan selera Mang
Ayi yang menggemari parade (parade pun sangat identik dengan propaganda
NAZI) dan memang cocok juga dengan kebiasaan suporter sepakbola yang
doyan konvoi kendaraan. Mang Ayi pernah bertanya apa konsekuensinya
ketika dia melakukan salam ala NAZI itu berulang-ulang sebelum
pertandingan, saya jawab bahwa tak ada konsekuensinya jika dilakukan di
Indonesia, asal jangan di Eropa, karena di Eropa ada larangannya terkait
simbol-simbol NAZI dan sanksinya berupa hukuman serius. Saya pun
menjelaskan kepada Mang Ayi bahwa ini berkaitan dengan sejarah dan
trauma suatu bangsa, kalau di Eropa yang sensitif adalah fasisme-NAZI
nah di Indonesia yang sensitif adalah komunisme, bahkan sempat ada TAP
MPRS Nomor XXV Tahun 1966 yang melarang marxisme-leninisme karena
khawatir dengan ancaman komunisme, padahal kajian komunisme di Eropa
biasa saja.
Bersambung…
Dalam tulisan berikutnya penulis akan mencoba menceritakan kembali
beberapa pengalaman tour yang pernah dilalui bersama Mang Ayi.
*Penulis adalah ex.ass.produser almarhum Ayi Beutik di program
PERSIB Aing KOMPAS TV Jabar dan rekan penyiar almarhum di 96,4 Bobotoh
FM, berakun twitter @ekomaung


0 comments:
Post a Comment