Robby Darwis merupakan salah satu mantan pemain PERSIB yang cukup banyak memberikan kontribusi positif bagi Maung Bandung. Tiga gelar juara Perserikatan, satu kali juara Liga Indonesia, dua kali runner up Perserikatan dan membawa Pangeran Biru promosi ke Divisi Utama.
Mungkin banyak yang belum tahu awal mula pria kelahiran 30 Oktober 1965 ini bergabung bersama PERSIB hingga akhirnya mampu memberikan gelar juara bagi tim kesayangan Bobotoh. Berikut ini wawancara reporter persib.co.id, Arif Ramhan, bersama Robby.
Bagaimana awalnya anda bisa memperkuat PERSIB?
Dulu karena degradasi, PERSIB sering turun ke kampung-kampung melihat turnamen di kampung di kecamatan. Dulu kan Marek Jonata (pelatih PERSIB) senang yang postur tubuhnya gede-gede, jadi dia bina dan dilatih. Kebetulan saya pas lagi main di Lembang lawan PERSIB Selection dan akhirnya dipanggil sama dia suruh latihan di PERSIB. Saat itu sekitar tahun 1982 waktu kelas 1 SMA.
Bagaimana rasanya bisa memperkuat Maung Bandung waktu itu?
Kalau itu suatu kebanggaan sudah masuk dan gabung ke tim PERSIB. Jadi, kita benar-benar semangat. Kasarnya mau latihan bagaimana pun yang penting saya masuk PERSIB. Dengan adanya pemanggilan dari PERSIB ini motivasi saya bertambah berlipat. Dulu, persaingannya ketat dan saya ingin melewati persaingan itu apalagi dengan tubuh yang tinggi pasti suatu saat bisa melewati persaingan itu dan akhirnya bisa.
Apakah keluarga anda juga ikut mendukung keputusan anda?
Dulu sih keluarga tidak mendukung awal-awal main bola. Tapi, kemudian setelah dipanggil PERSIB sedikit demi sedikit keluarga mulai mendukung. Selain karena melihat prestasi juga.
Anda terkenal dengan jargon "Halik Ku Aing". Bagaimana awalnya jargon itu dikenal oleh para Bobotoh?
"Halik Ku Aing" itu spontanitas Bobotoh penonton saja karena dulu begitu saya bawa bola dari belakang ke depan selalu bisa cetak gol juga. Kadang-kadang PERSIB kalau kesulitan cetak gol dan saya ke depan saya bisa cetak gol dari situ.
Momen apa yang tidak bisa dilupakan selama anda membela PERSIB?
Banyak. Tapi yang paling indah saat 1986 yang bisa bawa juara. Sebenarnya 1982 juga itu momen bagus juga kita bisa mengangkat dari degradasi ke perserikatan. Dulu kan PERSIB degradasi juga.
Apa kunci anda bisa memberikan gelar juara bagi PERSIB?
Kebersamaan. Kita yang sudah lama sama pemain-pemain lain dari junior itu tidak diubah sampai ke senior itu-itu saja. Itu salah satu kuncinya.
Harapan anda untuk tim PERSIB di musim ini?
Mudah-mudahan bisa juara tahun ini. Karena kapan lagi?, mereka pemain sudah kontrak dengan jangka waktunya cukup panjang yaitu dua tahun. Itu yang diharapkan sama coach dan manajemennya juga ya bisa juara. Karena kalau setahun, kemudian sekarang diberikan kesempatan lagi ya harus juara, sudah jadi kewajiban untuk pemain bawa PERSIB Juara. ***
Mungkin banyak yang belum tahu awal mula pria kelahiran 30 Oktober 1965 ini bergabung bersama PERSIB hingga akhirnya mampu memberikan gelar juara bagi tim kesayangan Bobotoh. Berikut ini wawancara reporter persib.co.id, Arif Ramhan, bersama Robby.
Bagaimana awalnya anda bisa memperkuat PERSIB?
Dulu karena degradasi, PERSIB sering turun ke kampung-kampung melihat turnamen di kampung di kecamatan. Dulu kan Marek Jonata (pelatih PERSIB) senang yang postur tubuhnya gede-gede, jadi dia bina dan dilatih. Kebetulan saya pas lagi main di Lembang lawan PERSIB Selection dan akhirnya dipanggil sama dia suruh latihan di PERSIB. Saat itu sekitar tahun 1982 waktu kelas 1 SMA.
Bagaimana rasanya bisa memperkuat Maung Bandung waktu itu?
Kalau itu suatu kebanggaan sudah masuk dan gabung ke tim PERSIB. Jadi, kita benar-benar semangat. Kasarnya mau latihan bagaimana pun yang penting saya masuk PERSIB. Dengan adanya pemanggilan dari PERSIB ini motivasi saya bertambah berlipat. Dulu, persaingannya ketat dan saya ingin melewati persaingan itu apalagi dengan tubuh yang tinggi pasti suatu saat bisa melewati persaingan itu dan akhirnya bisa.
Apakah keluarga anda juga ikut mendukung keputusan anda?
Dulu sih keluarga tidak mendukung awal-awal main bola. Tapi, kemudian setelah dipanggil PERSIB sedikit demi sedikit keluarga mulai mendukung. Selain karena melihat prestasi juga.
Anda terkenal dengan jargon "Halik Ku Aing". Bagaimana awalnya jargon itu dikenal oleh para Bobotoh?
"Halik Ku Aing" itu spontanitas Bobotoh penonton saja karena dulu begitu saya bawa bola dari belakang ke depan selalu bisa cetak gol juga. Kadang-kadang PERSIB kalau kesulitan cetak gol dan saya ke depan saya bisa cetak gol dari situ.
Momen apa yang tidak bisa dilupakan selama anda membela PERSIB?
Banyak. Tapi yang paling indah saat 1986 yang bisa bawa juara. Sebenarnya 1982 juga itu momen bagus juga kita bisa mengangkat dari degradasi ke perserikatan. Dulu kan PERSIB degradasi juga.
Apa kunci anda bisa memberikan gelar juara bagi PERSIB?
Kebersamaan. Kita yang sudah lama sama pemain-pemain lain dari junior itu tidak diubah sampai ke senior itu-itu saja. Itu salah satu kuncinya.
Harapan anda untuk tim PERSIB di musim ini?
Mudah-mudahan bisa juara tahun ini. Karena kapan lagi?, mereka pemain sudah kontrak dengan jangka waktunya cukup panjang yaitu dua tahun. Itu yang diharapkan sama coach dan manajemennya juga ya bisa juara. Karena kalau setahun, kemudian sekarang diberikan kesempatan lagi ya harus juara, sudah jadi kewajiban untuk pemain bawa PERSIB Juara. ***


0 comments:
Post a Comment