Kesuksesan PERSIB menjuarai kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2014,
tidak lepas dari peran dokter tim Mohamad Rafi Ghani. Pria kelahiran
Bandung, 10 Juli 1969 ini pertama bergabung dengan tim 2009 lalu, ia pun
diamanatkan memonitor kesehatan pemain, baik dari asupan makanan,
suplemen vitamin, dan hal medis lainnya.
Selama enam tahun itu pun, dilewati dengan suka dan duka. Bahkan, awalnya tidak pernah terpikir menjadi seorang dokter tim sepakbola. Namun berkat dukungan penuh dari Sang istri tercinta Ira Feristiaty, Rafi sanggup melewatinya hingga saat ini.
Lantas bagaimana awal Rafi bergabung dan apa yang ditargetkannya bersama Maung Bandung kedepan. Berikut petikan wawancara dengan Rafi di Mes PERSIB, Minggu (26/4/2015) sebelum bertolak ke Maladewa.
Bagaimana awalnya bisa bergabung dengan PERSIB?
Saya ingat, saat itu Hari Jumat tahun 2009, saya dihubungi Sekretaris tim, Yudiana diminta untuk menjadi Dokter tim PERSIB. Tapi karena saya ada pasien, saya minta waktu. Disitu saya kaget, karena belum pernah terbayang menangani sebuah tim sepakbola. Lalu saya memberi kabar kepada istri, malah istri memberikan support. Dan saya langsung mengiyakan untuk bergabung.
Keesokan harinya saya diminta langsung ke Jakarta untuk mengambil lisensi kedokteran. Karena saya langsung ke Jakarta bukan menemui tim, lucunya, saat mengisi formulir, saya tidak tahu Manajer dan Pelatih PERSIB siapa. Saat itu manajernya Pak Haji Umuh Muchtar dan pelatihnya Jaya Hartono.
Tugas dokter tim apa saja?
Yang pasti memperhatikan kesehatan pemain, apakah dalam keaadan fit atau tidak. Menghitung jumlah kalori pemain. Pada saat kita berangkat ke markas lawan memperhatikan kebutuhan pemain, terutama untuk nutrisi. Lalu koordinasi dengan fisioterapis dan masseur. Jika saat mendampingi tim keluar, saya koordinasi dengan tim setempat, kalau ada cedera harus dibawa kemana dan ke Rumah Sakit mana, jadi ada prepare untuk hal-hal yang tidak diinginkan.
Siapa pemain PERSIB yang pertama ditangani?
Saat masuk PERSIB, saya langsung menangani Hilton Moreira (Pemain asing asal Brasil) yang lagi cedera. Memang bukan cedera berat, paha kanannya sedikit ketarik. Karena sudah terbiasa menangani atlet, saya tidak terlalu kesulitan. Saya sebelumnya jadi dokter pertandingan Boxing dan Gulat.
Seberapa sulitnya menangani pemain yang mengalami cedera?
Alhamdulillah selama ini, penanganan cedera pada pemain sepak bola tidak terlalu sulit. Karena saya punya latar belakang di kegiatan olah raga sebelumnya. Sebelumnya selama setahun tepatnya tahun 2006 saya menangani tim sepakbola di Wamena, Papua. Jadi cukup punya pengalaman. Memang awal-awal bergabung agak canggung karena belum begitu kenal dengan tim. Dan Alhamdulilah sampai saat ini dipercaya pegang Dokter PERSIB.
Pernah khawatir dengan kondisi pemain yang tak kunjung sembuh dari cederanya?
Sebetulnya kekhawatiran pasti ada. Tapi karena saya bekerja di profesi profesional dengan berjalannya waktu, saya yakin semua pemain yang direkrut siap. Kalau dulu pas awal, pas pemain inti main cedera saya khawatir, sehingga tidak bisa memperkuat tim. Dengan berjalannya waktu kekhawatiran itu tidak dirasakan. Karena saya yakin semua yang ada di dalam tim memiliki kesehatan yang baik.
Suka duka menjadi dokter tim selama enam tahun?
Saya orientasinya hanya untuk ibadah. Kedua, ketiga, keempat baru memikirkan hal yang lain. Alhamdulillah dipercaya sampai sekarang. Sukanya apa yang kita harapkan dan rencanakan menjadi target tercapai. Targetnya saat memenangkan pertandingan. Dukanya saat yang kita harapkan apa yang sudah direncanakan tidak sesuai harapan. Contohnya, saat sudah memberikan kesehatan pemain, memeriksa suplemen mereka. Saat diset dengan baik, ternyata kekalahannya dikalahkan oleh perangkat pertandingan seperti halnya wasit yang memberikan hukuman menyebabkan kekalahan.
Kesulitan apa yang ditemui selama bergabung dengan PERSIB?
Untuk kesulitan tidak ada, saya bersyukur bekerja di sini, apalagi dengan support yang penuh dari Manajer Umuh Muchtar. Artinya Pak Umuh menjembatani antara manajemen ke tim. Dimana ada kesulitan bisa menghubungi beliau dan beliau tidak pernah menghambat lama yang seharusnya dikerjakan.
Contohnya, dalam dua tahun ini Alhamdulilah tidak ada pemain saya yang masuk sampai ke meja operasi. Cuma satu Muhammad Ridwan itupun karena kesalahan. Pada saat itu, biasanya prosedur salah satu tindakan ada administrasi. Kalau ke Pak Haji Umuh, secara lisan, dia tangani dulu maka prosedurnya baru belakangan. Dan alhamdulillah hambatan-hambatan itu tidak ada, semuanya bisa diatasi.
Apa harapan untuk kedepannya?
Saya akan mengabdikan untuk PERSIB selama saya dikasih kesehatan, saya selalu siap menjalankan pekerjaan saya sebagai dokter tim. Kalau kinerja saya masih dipakai dan masih dibutuhkan, Insya Allah saya selalu bersedia.
Selama enam tahun itu pun, dilewati dengan suka dan duka. Bahkan, awalnya tidak pernah terpikir menjadi seorang dokter tim sepakbola. Namun berkat dukungan penuh dari Sang istri tercinta Ira Feristiaty, Rafi sanggup melewatinya hingga saat ini.
Lantas bagaimana awal Rafi bergabung dan apa yang ditargetkannya bersama Maung Bandung kedepan. Berikut petikan wawancara dengan Rafi di Mes PERSIB, Minggu (26/4/2015) sebelum bertolak ke Maladewa.
Bagaimana awalnya bisa bergabung dengan PERSIB?
Saya ingat, saat itu Hari Jumat tahun 2009, saya dihubungi Sekretaris tim, Yudiana diminta untuk menjadi Dokter tim PERSIB. Tapi karena saya ada pasien, saya minta waktu. Disitu saya kaget, karena belum pernah terbayang menangani sebuah tim sepakbola. Lalu saya memberi kabar kepada istri, malah istri memberikan support. Dan saya langsung mengiyakan untuk bergabung.
Keesokan harinya saya diminta langsung ke Jakarta untuk mengambil lisensi kedokteran. Karena saya langsung ke Jakarta bukan menemui tim, lucunya, saat mengisi formulir, saya tidak tahu Manajer dan Pelatih PERSIB siapa. Saat itu manajernya Pak Haji Umuh Muchtar dan pelatihnya Jaya Hartono.
Tugas dokter tim apa saja?
Yang pasti memperhatikan kesehatan pemain, apakah dalam keaadan fit atau tidak. Menghitung jumlah kalori pemain. Pada saat kita berangkat ke markas lawan memperhatikan kebutuhan pemain, terutama untuk nutrisi. Lalu koordinasi dengan fisioterapis dan masseur. Jika saat mendampingi tim keluar, saya koordinasi dengan tim setempat, kalau ada cedera harus dibawa kemana dan ke Rumah Sakit mana, jadi ada prepare untuk hal-hal yang tidak diinginkan.
Siapa pemain PERSIB yang pertama ditangani?
Saat masuk PERSIB, saya langsung menangani Hilton Moreira (Pemain asing asal Brasil) yang lagi cedera. Memang bukan cedera berat, paha kanannya sedikit ketarik. Karena sudah terbiasa menangani atlet, saya tidak terlalu kesulitan. Saya sebelumnya jadi dokter pertandingan Boxing dan Gulat.
Seberapa sulitnya menangani pemain yang mengalami cedera?
Alhamdulillah selama ini, penanganan cedera pada pemain sepak bola tidak terlalu sulit. Karena saya punya latar belakang di kegiatan olah raga sebelumnya. Sebelumnya selama setahun tepatnya tahun 2006 saya menangani tim sepakbola di Wamena, Papua. Jadi cukup punya pengalaman. Memang awal-awal bergabung agak canggung karena belum begitu kenal dengan tim. Dan Alhamdulilah sampai saat ini dipercaya pegang Dokter PERSIB.
Pernah khawatir dengan kondisi pemain yang tak kunjung sembuh dari cederanya?
Sebetulnya kekhawatiran pasti ada. Tapi karena saya bekerja di profesi profesional dengan berjalannya waktu, saya yakin semua pemain yang direkrut siap. Kalau dulu pas awal, pas pemain inti main cedera saya khawatir, sehingga tidak bisa memperkuat tim. Dengan berjalannya waktu kekhawatiran itu tidak dirasakan. Karena saya yakin semua yang ada di dalam tim memiliki kesehatan yang baik.
Suka duka menjadi dokter tim selama enam tahun?
Saya orientasinya hanya untuk ibadah. Kedua, ketiga, keempat baru memikirkan hal yang lain. Alhamdulillah dipercaya sampai sekarang. Sukanya apa yang kita harapkan dan rencanakan menjadi target tercapai. Targetnya saat memenangkan pertandingan. Dukanya saat yang kita harapkan apa yang sudah direncanakan tidak sesuai harapan. Contohnya, saat sudah memberikan kesehatan pemain, memeriksa suplemen mereka. Saat diset dengan baik, ternyata kekalahannya dikalahkan oleh perangkat pertandingan seperti halnya wasit yang memberikan hukuman menyebabkan kekalahan.
Kesulitan apa yang ditemui selama bergabung dengan PERSIB?
Untuk kesulitan tidak ada, saya bersyukur bekerja di sini, apalagi dengan support yang penuh dari Manajer Umuh Muchtar. Artinya Pak Umuh menjembatani antara manajemen ke tim. Dimana ada kesulitan bisa menghubungi beliau dan beliau tidak pernah menghambat lama yang seharusnya dikerjakan.
Contohnya, dalam dua tahun ini Alhamdulilah tidak ada pemain saya yang masuk sampai ke meja operasi. Cuma satu Muhammad Ridwan itupun karena kesalahan. Pada saat itu, biasanya prosedur salah satu tindakan ada administrasi. Kalau ke Pak Haji Umuh, secara lisan, dia tangani dulu maka prosedurnya baru belakangan. Dan alhamdulillah hambatan-hambatan itu tidak ada, semuanya bisa diatasi.
Apa harapan untuk kedepannya?
Saya akan mengabdikan untuk PERSIB selama saya dikasih kesehatan, saya selalu siap menjalankan pekerjaan saya sebagai dokter tim. Kalau kinerja saya masih dipakai dan masih dibutuhkan, Insya Allah saya selalu bersedia.
Sumber : Persib.co.id


0 comments:
Post a Comment